Senin, 09 Oktober 2017

5 Kepribadian Steve Jobs Yang Tidak Boleh Kalian Tiru

Steven Paul Jobs (selasar.com)
Siapa yang tak mengenal Steven Paul Jobs atau yang kita kenal dengan nama Steve Jobs. Steve Jobs merupakan salah satu ikon penting dalam pengembangan dunia teknologi. Bahkan ia juga menginspirasi banyak orang. Namun ada beberapa hal yang mungkin belum kita ketahui sisi kepribadian Steve Jobs yang perlu kita jadikan pelajaran agar tidak terjadi dalam kehidupan kita.

Ini dia lima sisi kepribadian Steve Jobs yang perlu kita ketahui.
  • Menolak Aturan
Tumbuh di bawah asuhan sang ayah, Paul Jobs, yang memiliki hobi bidang mekanika, Steve sudah menunjukkan minat pada sains dari kecil. Steve sudah mahir membaca sebelum masuk sekolah, juga lebih akrab dengan para insinyur di lingkungan sekitar rumah daripada dengan anak-anak seusianya. Ia sangat pintar, bahkan mungkin terlalu pintar.

Mungkin karena ia terlalu pintar itulah, Steve jadi tidak betah di sekolah. Ia menjadi anak pembangkang, tidak mau diatur, bahkan suka mengerjai para guru dan murid lain. Begitu bosannya ia dengan sekolah sampai-sampai ia berkali-kali diskors karena terlalu bandel.

Sifat bandel Steve Jobs baru berubah ketika ia bertemu guru wanita yang bernama Imogene Hill. Guru itu berhasil membujuknya untuk belajar lewat sogokan. “Saya sangat ingin kamu menyelesaikan buku soal-soal ini. Saya akan beri kamu lima dolar bila menyelesaikannya,” kata sang guru. Imbalan itu membuat Steve Jobs sangat rajin belajar hingga diperbolehkan untuk loncat satu tingkat ketika naik kelas.

  • Tidak Komitmen Pada Hubungan
Di masa muda, Steve Jobs dikenal sebagai seorang penyendiri. Ia sangat pintar, tapi tidak bertingkah seperti nerd. Ia sangat bandel, tapi tidak bergumul dengan para hippie. Ia berteman dengan orang dari spektrum minat yang berbeda-beda, dari elektronika, literatur klasik, hingga seni musik. Tapi Steve Jobs tidak benar-benar menjadi anggota grup pertemanan tertentu. Ia adalah individu yang tak terikat.

Sayangnya sifat individualis itu juga terbawa ke dalam hubungan asmaranya. Sebelum Steve Jobs menikahi Laurene Powell, ia sempat berpacaran dengan gadis bernama Chrisann Brennan. Setelah mendirikan Apple, Chrisann bekerja di perusahaan itu sebagai staf bagian pengiriman barang. Tapi kesuksesan Apple membuat ikatan mereka renggang.

Puncak masalah terjadi ketika Chrisann mengandung. Steve tidak mau mengakui anaknya padahal ia sendiri yang memberi nama “Lisa”, sehingga mereka berpisah. Setelah melalui tes DNA, akhirnya terbukti bahwa ia memang ayah dari Lisa. Steve pun mau memberi nafkah dan lambat laun berdamai dengan Chrisann. Ia bahkan mengubah nama resmi anaknya dari Lisa Brennan menjadi Lisa Brennan-Jobs.
  • Menipu Teman Sendiri
Sebelum mendirikan Apple, Steve Jobs sempat bekerja sebagai teknisi di Atari. Tapi pekerjaan di Atari itu ia dapatkan dengan cara sedikit curang. Saat itu, Steve Jobs bersahabat dengan Steve Wozniak yang merupakan insinyur jenius. Wozniak ahli dalam elektronika televisi, dan ia sempat membuat sendiri sebuah mesin permainan Pong.

Ketika melamar pekerjaan di Atari, Steve Jobs membawa mesin Pong milik Wozniak. Pihak Atari mengira bahwa mesin itu adalah buatan Steve Jobs, sehingga mereka terkesan dan mau merekrutnya.

Steve Jobs juga pernah meminta Wozniak membantu mengerjakan game Atari berjudul Breakout. Ia berkata bahwa mereka menerima honor US$700 (sekitar Rp9,3 juta) dan akan membaginya untuk berdua. Steve Jobs membayar Wozniak sebesar US$350 (sekitar Rp4,6 juta), tapi pada kenyataannya, ia menerima US$5000 (sekitar Rp. 67 juta) dari Atari. Wozniak tidak mempermasalahkan soal uangnya, tapi ia kecewa karena Steve Jobs tidak jujur.
  • Kurang Menghargai Pegawai
Setelah mendirikan Apple bersama Steve Wozniak dan Ronald Wayne, Steve Jobs merekrut beberapa orang sebagai pegawai pertama. Salah satunya adalah Daniel Kottke, teman kuliah Steve Jobs yang menggemari komputer. Daniel berperan dalam proses pembuatan komputer Apple, Apple II, Apple III, serta Macintosh generasi awal.

Daniel bertahan di Apple selama lebih dari delapan tahun, tapi meskipun ia berperan penting di awal pendirian perusahaan, Steve Jobs tidak pernah menawarkan saham padanya. Wozniak bahkan rela memberikan saham miliknya pada Daniel, tapi Jobs tetap kukuh pada pendiriannya.

Meski tidak menawarkan saham, sebenarnya Steve Jobs sempat menawarkan penghargaan lain pada Daniel. Dalam pengakuannya pada Chrisann Brennan, Daniel berkata bahwa Steve Jobs meminta dirinya untuk menempati posisi marketing, tapi Daniel menolak. Ia lebih tertarik bekerja dengan teknologi daripada pemasaran.
  • Arogan dan Mudah Emosi
Steve Jobs punya idealisme tinggi dan visi-visi hebat. Sayangnya terkadang idealisme itu muncul terlalu berlebihan. Apabila ada orang yang tidak sepaham dengannya, ia tak segan-segan mendebat, membentak, bahkan mengeluarkan makian kasar. Padahal belum tentu pandangan Steve Jobs itu benar.

Sudah banyak orang yang menerima kemarahan Steve Jobs, mulai dari desainer iMac, jurnalis New York Times, sampai resepsionis hotel. Saat jabatan CEO Apple dipegang oleh John Sculley, perbedaan pandangan mereka berdua pun sempat menimbulkan ketegangan.

Pada akhirnya divisi yang dipimpin John Sculley jauh lebih sukses, bahkan berkontribusi pada 85 persen pendapatan Apple di tahun 1985. Steve Jobs sempat ingin memecat Sculley, tapi akhirnya perdebatan ini berujung pada Jobs yang meninggalkan Apple. Steve Jobs kemudian mendirikan perusahaan NeXT Computer yang dibeli oleh Apple pada tahun 1997.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu agar bisa lebih baik lagi dalam bersikap. Karena kita selaku manusia tak ada yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT. Salam blogger. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar